Jordy Tutuarima Ungkap Kisah Gaji Tertunda di Persis Solo, Dari Mimpi Timnas Hingga Realita Sulit

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 16 April 2026 | Jordy Tutuarima, gelandang berpengalaman yang pernah menorehkan prestasi di level kompetisi Indonesia, kembali menjadi sorotan publik setelah mengungkapkan pengalaman pahitnya terkait penundaan gaji selama masa bernaung di Persis Solo. Dalam sebuah wawancara eksklusif, pemain berusia 28 tahun ini menyampaikan bahwa selama satu periode, gaji bulanannya belum dibayarkan selama tiga bulan, memaksa dirinya dan rekan-rekannya mengirimkan surat resmi kepada manajemen klub serta PSSI. Pengakuan ini menambah deretan kasus serupa yang melanda dunia sepakbola Indonesia, termasuk keluhan pemain PSBS Biak yang baru-baru ini menyoroti keterlambatan pembayaran gaji hingga tiga bulan.

Latar Belakang Karier dan Mimpi Timnas

Jordy memulai karier profesionalnya di kancah Liga 2, kemudian naik ke Liga 1 bersama beberapa klub papan atas. Selama masa transisi, ia sempat dipanggil dalam skuat timnas Indonesia U-23, yang menjadi puncak mimpi dan ambisinya untuk mengangkat nama negara di panggung internasional. “Saya pernah bermimpi berdiri di lapangan hijau bersama Timnas, mengibarkan bendera merah putih. Itu adalah motivasi utama saya saat masih muda,” ujar Jordy dalam percakapan.

Baca juga:
Palmeiras Memimpin Klasemen: Kemenangan Tipis 1-0 Atas Athletico-PR di Allianz Parque

Pengalaman Gaji Tertunda di Persis Solo

Menurut keterangan pemain, permasalahan dimulai pada pertengahan musim 2025/2026 ketika manajemen Persis Solo mengalami penurunan pendapatan akibat kurangnya sponsor utama. Akibatnya, pembayaran gaji bulanan yang seharusnya masuk pada tanggal 10 setiap bulannya terhambat. “Kami menunggu hingga akhir bulan, lalu minggu berikutnya, belum ada tanda masuk. Pada akhirnya, kami mengirimkan surat resmi ke klub, operator liga, dan PSSI untuk menuntut hak kami,” katanya.

Surat tersebut, yang juga disertai bukti korespondensi elektronik, menegaskan bahwa pemain tidak hanya kehilangan hak finansial, tetapi juga terpaksa mengorbankan kebutuhan dasar seperti konsumsi air mineral setelah latihan. Kondisi ini beresonansi dengan keluhan serupa yang diungkapkan pemain PSBS Biak, yang melaporkan ketidaktersediaan fasilitas makanan dan bahkan penarikan kendaraan tim.

Dampak Finansial dan Psikologis

Keterlambatan pembayaran gaji menimbulkan dampak signifikan bagi pemain. Jordy mengaku harus mengatur ulang keuangan pribadi, termasuk menunda pembayaran cicilan rumah dan menunda pengiriman uang kepada keluarga di kampung halamannya. “Rasa cemas terus menggelayuti, apalagi ketika ada tanggung jawab keluarga. Kami tidak hanya pemain, tapi juga kepala rumah tangga bagi sebagian orang,” jelasnya.

Secara psikologis, kondisi ini memengaruhi performa di lapangan. Pada beberapa laga, Jordy mengaku tidak dapat memberikan konsentrasi penuh karena pikiran terus terfokus pada masalah keuangan. Hal ini berpotensi menurunkan kualitas permainan tim secara keseluruhan, terutama pada fase-fase krusial pertandingan.

Baca juga:
Persib Tetap Unggul, Beban Berat Menyeret Borneo FC di Ujung Super League 2025/2026

Tindakan dan Respons Manajemen

Setelah surat resmi disampaikan, manajemen Persis Solo mengklaim bahwa keterlambatan disebabkan oleh masalah administratif internal dan belum ada niat untuk menahan gaji pemain. Namun, hingga saat penulisan artikel ini, belum ada bukti pembayaran yang dapat diverifikasi oleh pemain. Jordy menegaskan bahwa mereka masih menunggu respons konkret, dan bila tidak ada penyelesaian, mereka siap membawa kasus ini ke jalur hukum atau melibatkan Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia (APPI).

Perbandingan Kasus di Liga Indonesia

Kasus Jordj Tutuarima tidak berdiri sendiri. Selama satu tahun terakhir, setidaknya tiga klub di Liga 1 dan Liga 2 tercatat mengalami keterlambatan gaji, termasuk PSBS Biak yang baru-baru ini menyoroti masalah serupa. Data internal menunjukkan rata-rata keterlambatan mencapai 2,5 hingga 3 bulan, mengindikasikan adanya masalah struktural dalam pengelolaan keuangan klub.

  • PSBS Biak: Gaji tertunda 3 bulan, pemain mengirim surat ke PSSI.
  • Persis Solo: Gaji tertunda 3 bulan, pemain mengirim surat resmi.
  • Club X (nama fiktif): Keterlambatan 2 bulan, pemain menolak kontrak baru.

Fenomena ini menimbulkan pertanyaan tentang transparansi keuangan di tingkat klub, serta peran PSSI sebagai regulator utama yang diharapkan dapat menegakkan standar pembayaran yang adil.

Harapan dan Langkah Kedepan

Jordy menutup wawancara dengan harapan bahwa klub akan segera menyelesaikan tunggakan gaji dan memperbaiki manajemen keuangan. “Saya masih mencintai sepakbola, saya masih ingin berkontribusi bagi Persis Solo dan impian saya untuk bermain di Timnas tidak akan padam. Tapi hak kami sebagai pemain harus dihormati,” pungkasnya.

Baca juga:
Puluhan Narapidana Turun Tangan Bantu Bersihkan Sirkuit MotoGP Brasil, Balapan Tetap Digelar Meski Banjir

Jika tidak ada solusi dalam waktu dekat, pemain dan serikat pemain berencana mengajukan keluhan resmi kepada Komisi Disiplin PSSI serta menuntut sanksi bagi klub yang melanggar peraturan keuangan. Sementara itu, para pendukung dan pengamat sepakbola menyerukan transparansi yang lebih besar, termasuk publikasi laporan keuangan tahunan klub sebagai langkah preventif.

Kasus ini menjadi peringatan bagi seluruh ekosistem sepakbola Indonesia bahwa kesejahteraan pemain tidak boleh menjadi korban dalam dinamika ekonomi klub. Penyelesaian yang adil diharapkan tidak hanya mengembalikan kepercayaan pemain, tetapi juga meningkatkan kualitas kompetisi secara keseluruhan.

Tinggalkan komentar