Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 21 Maret 2026 | Makassar, 21 Maret 2026 – Sebuah kisah yang mengusik rasa nostalgia muncul kembali di tengah perbincangan tentang tradisi Ramadan di kawasan Pakladingan, sebuah desa kecil yang masih mempertahankan nuansa pedesaan tanpa aliran listrik. Dede Leman, seorang pengajar lepas dan staf di Universitas Muhammadiyah Makassar, menuliskan sebuah cerpen berjudul “Aku Hanya Ingin Melihatmu Sekali Lagi di Ujung Jalan Itu” yang kini menjadi sorotan karena mengangkat nilai-nilai kebersamaan, kerinduan, dan makna sederhana di balik ritual sahur.
Kisah dimulai ketika seorang remaja bernama Lintar, yang pada saat itu masih duduk di bangku kelas dua SMA, menghabiskan malam sahur bersama ayah dan ibunya yang berjualan di sebuah kampung terpencil. Suasana dipenuhi cahaya lampu petromak yang redup, aroma ayam goreng kecap yang menguar dari dapur, serta bunyi piring dan sendok yang menjadi alarm alami sebelum fajar. Dalam narasinya, Lintar menekankan betapa “talang bulat berisi makanan” berputar perlahan, memberikan tiap pengunjung kesempatan kecil untuk merasakan kebahagiaan.
Ketika matahari mulai terbit, Lintar memutuskan untuk membeli lammang – makanan tradisional yang dibakar di atas bara kayu – dengan menggunakan logat Makassar khasnya: “Saya mau beli lammang dulu, Bapa.” Keputusan sederhana itu ternyata membuka pintu bagi sebuah momen introspeksi. Jalan setapak yang menurun ke sungai, berpasir keras dan sempit, menjadi latar tempat Lintar berhenti di depan sebuah rumah kayu dengan pintu yang setengah terbuka. Kain yang tergantung di jemuran menambah kesan misterius, seolah menunggu sosok yang tak terlihat.
Selama beberapa detik, Lintar menahan napas, berharap pintu itu terbuka sedikit. Namun, tidak ada apa‑apa yang berubah. Meski begitu, ia tidak terburu‑buru melangkah pergi. “Jika saya melangkah terlalu cepat, harapan itu ikut selesai di situ,” tulis Leman, menggambarkan perasaan menunggu yang tak berujung. Lintar akhirnya memegang lammang yang hangat, kembali ke pasar, dan menikmati makanan itu dengan perlahan, seolah menunda waktu sejenak.
Memori ini tidak hanya tentang rasa makanan, melainkan tentang ikatan keluarga, tradisi sahur, dan aliran sungai yang terus mengalir tanpa henti. “Kini, ketika mengingat Ramadan di Pakladingan, yang pertama hadir bukan lagi lammang. Bukan pula jalan setapak itu. Yang datang lebih dulu adalah ayah dan ibu,” ujar Leman, menekankan pentingnya kebersamaan dalam mengukir kenangan. Ia menegaskan bahwa meski hidup telah membawanya jauh dari desa, rasa rindu akan masa remaja itu tetap hidup, dan ia tidak ingin mengubah apapun dari masa lalu tersebut.
Analisis budaya menunjukkan bahwa cerita Leman mencerminkan nilai‑nilai tradisional Makassar yang masih kuat, seperti rasa hormat kepada orang tua, pentingnya kerja keras dalam berjualan, serta kesederhanaan dalam menikmati makanan. Lebih jauh lagi, narasi ini mengilustrasikan bagaimana ruang‑ruang publik seperti pasar dan jalan setapak menjadi saksi bisu perjalanan hidup generasi muda, sekaligus tempat bertemunya harapan dan realita.
Berikut beberapa poin penting yang dapat diambil dari cerita ini:
- Ritual sahur di desa Pakladingan menekankan kebersamaan keluarga.
- Lammang sebagai simbol makanan tradisional yang mengikat kenangan masa kecil.
- Jalan setapak yang sempit melambangkan perjalanan hidup yang penuh tantangan.
- Harapan yang menunggu di ujung jalan mencerminkan kerinduan akan seseorang atau masa yang tak dapat kembali.
- Aliran sungai yang terus mengalir menggambarkan waktu yang tidak dapat dihentikan.
Para ahli budaya menilai bahwa cerita semacam ini penting untuk melestarikan warisan takbenda, terutama di era digital yang kerap mengikis nilai‑nilai lokal. “Kisah personal yang dibalut dengan detail sensori seperti bau, cahaya, dan suara dapat menjadi jembatan antara generasi muda dan tradisi lama,” kata Dr. Hadi, dosen antropologi di Universitas Hasanuddin.
Dengan mengangkat cerita Lintah, Dede Leman tidak hanya menulis sebuah cerpen, melainkan juga menyuguhkan potret kehidupan pedesaan yang otentik. Cerita tersebut menjadi pengingat bahwa di balik hiruk‑pikuk modernitas, masih ada ruang bagi kenangan sederhana yang mampu menghubungkan hati, menginspirasi rasa hormat, dan menumbuhkan keinginan untuk kembali ke “ujung jalan itu” – tempat harapan pernah berlabuh.
Seiring dengan berjalannya waktu, harapan Lintah untuk “melihat lagi” tetap mengalir bersama sungai di Pakladingan, menandakan bahwa kenangan tidak pernah benar‑benar hilang, melainkan terus hidup dalam tiap langkah yang menapaki jejak masa lalu.