Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 13 April 2026 | Pasar energi global mengalami lonjakan tajam pada akhir pekan ini setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan rencana blokade ganda di Selat Hormuz. Harga minyak mentah Brent naik hampir 8 persen, mencapai US$102,6 per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) mencatat kenaikan 8,2 persen menjadi US$104,5 per barel. Kenaikan ini menandai salah satu pergerakan harga terbesar dalam setahun dan memicu kepanikan di kalangan pelaku pasar serta pemerhati geopolitik.
Latihan Blokade dan Dampak Langsung
Keputusan Trump datang sesudah negosiasi intensif antara Amerika Serikat dan Iran yang berlangsung selama lebih dari 20 jam di Islamabad, Pakistan, namun berakhir tanpa kesepakatan. Wakil Presiden JD Vance menyatakan Amerika Serikat telah menyampaikan “tawaran terakhir” kepada Tehran, namun rincian tawaran tersebut tidak diungkapkan secara publik. Ketegangan yang sebelumnya sempat mereda setelah gencatan senjata dua pekan kembali memuncak, memaksa Pentagon mengaktifkan Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) untuk menyiapkan operasi blokade terhadap semua kapal yang memasuki atau meninggalkan Selat Hormuz.
Blokade pertama dijadwalkan mulai Senin pukul 14.00 GMT (21.00 WIB), dengan instruksi kepada Angkatan Laut AS untuk melacak serta mencegat kapal yang dianggap membayar Iran untuk melintasi jalur strategis tersebut. Selat Hormuz, yang menjadi pintu keluar utama bagi lebih dari satu pertiga produksi minyak dunia, menjadi titik kritis yang dapat memengaruhi pasokan energi global bila terganggu.
Reaksi Pasar dan Proyeksi Harga
- Brent naik 7,76 persen menjadi US$102,59 per barel pada kontrak Juni.
- WTI naik 8,2 persen menjadi US$104,51 per barel pada kontrak Mei.
- Harga tersebut setara dengan sekitar Rp 1,7 juta per barel, menimbulkan tekanan inflasi di banyak negara importir minyak.
Para analis menilai lonjakan ini mencerminkan ekspektasi pasar akan gangguan pasokan yang berkelanjutan. Jika blokade berlangsung lebih dari beberapa hari, cadangan strategis minyak dunia dapat terkuras, memaksa negara-negara konsumen meningkatkan pembelian di pasar spot dengan premi yang lebih tinggi.
Implikasi Ekonomi Global
Kenaikan harga minyak berdampak langsung pada biaya transportasi, produksi industri, serta tarif listrik di negara-negara yang masih bergantung pada bahan bakar fosil. Negara-negara di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, diproyeksikan akan mengalami beban tambahan pada neraca perdagangan karena impor minyak yang lebih mahal. Selain itu, sektor energi terbarukan diperkirakan akan memperoleh dorongan karena biaya peluang energi fosil yang meningkat.
Bank sentral di beberapa ekonomi utama, seperti Federal Reserve dan Bank of England, diperkirakan akan memperketat kebijakan moneter untuk menahan tekanan inflasi yang dipicu oleh kenaikan energi. Sementara itu, OPEC+ kemungkinan akan meninjau kembali target produksi mereka dalam upaya menstabilkan pasar, meski keputusan tersebut dapat dipengaruhi oleh tekanan politik di antara anggotanya.
Respon Internasional dan Diplomasi
Negara-negara Eropa dan Timur Tengah mengeluarkan pernyataan keprihatinan atas eskalasi militer di wilayah strategis tersebut. Uni Eropa menyerukan dialog damai dan menegaskan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz. Di sisi lain, Iran menolak blokade tersebut sebagai tindakan agresi dan mengancam akan menanggapi dengan langkah balasan yang dapat memperparah situasi.
Komunitas internasional kini menantikan langkah selanjutnya dari PBB, yang diperkirakan akan menggelar pertemuan darurat untuk membahas keamanan jalur pelayaran dan stabilitas pasar energi. Upaya mediasi yang melibatkan negara-negara netral, seperti Turki dan Qatar, juga tengah dipertimbangkan sebagai sarana meredakan ketegangan.
Dengan situasi yang masih sangat dinamis, para pelaku pasar dan pembuat kebijakan di seluruh dunia terus memantau perkembangan di Selat Hormuz. Ketidakpastian yang melingkupi blokade ganda ini menegaskan betapa pentingnya stabilitas geopolitik bagi keamanan energi global.
Jika blokade tidak segera dicabut atau digantikan dengan kesepakatan damai, ekspektasi kenaikan harga minyak dapat berlanjut, menambah beban pada konsumen, produsen, serta pemerintah yang harus menyeimbangkan antara kebutuhan energi dan stabilitas ekonomi.