Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 13 April 2026 | Pasar energi dunia mengalami lonjakan tajam pada pekan ini setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, mengumumkan ancaman blokade ganda terhadap Selat Hormuz. Kebijakan tersebut memicu kekhawatiran luas di kalangan pelaku pasar, pemerintah, dan konsumen energi di seluruh dunia. Harga minyak mentah Brent melambung hingga mencapai 102,59 dolar AS per barel, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik menjadi 104,51 dolar AS per barel, mencatat kenaikan lebih dari delapan persen dalam hitungan hari.
Lonjakan harga ini mencerminkan persepsi pasar bahwa jalur strategis utama untuk transportasi minyak, yakni Selat Hormuz, berada di ambang gangguan serius. Selat tersebut menghubungkan Laut Arab dengan Teluk Persia dan menjadi jalur transit bagi sekitar tiga perempat produksi minyak dunia. Setiap hambatan pada alur ini berpotensi mengganggu pasokan global, memicu fluktuasi harga, dan menimbulkan ketidakstabilan ekonomi di tingkat internasional.
Dinamika Politik yang Memicu Blokade
Ketegangan antara Amerika Serikat dan Iran memuncak pada awal April 2026 setelah perundingan intensif di Islamabad gagal mencapai kesepakatan. Perundingan yang berlangsung hampir satu hari itu berakhir tanpa hasil konkret, meskipun pihak Amerika Serikat, melalui Wakil Presiden JD Vance, mengklaim telah menyampaikan tawaran terakhir yang dianggap paling adil bagi Tehran. Kegagalan diplomatik tersebut memicu keputusan tegas Trump untuk memerintahkan Angkatan Laut AS melakukan pemantauan serta intersepsi terhadap kapal-kapal yang diyakini membayar Iran untuk melewati Selat Hormuz.
Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) menegaskan bahwa blokade akan dimulai pada Senin, pukul 14.00 GMT (21.00 WIB), dengan target utama menghentikan semua lalu lintas maritim yang masuk dan keluar dari pelabuhan Iran. Kebijakan ini, yang disebut sebagai “blokade ganda”, mencakup tidak hanya penangkapan kapal yang melanggar, tetapi juga penyaringan barang-barang yang dapat digunakan untuk mendukung program energi Iran.
Dampak Langsung pada Harga Minyak
Data pasar menunjukkan bahwa pada Minggu, 12 April 2026, kontrak minyak Brent untuk bulan Juni naik 7,76 persen menjadi 102,59 dolar AS per barel. Sementara itu, kontrak WTI untuk pengiriman Mei meningkat 8,2 persen, menembus batas 104 dolar AS per barel. Kenaikan ini menandai salah satu lonjakan terbesar dalam sejarah harga minyak mentah, mengingat fluktuasi biasanya berada pada kisaran satu hingga tiga persen dalam periode serupa.
- Brent: 102,59 USD/barel (+7,76%)
- WTI: 104,51 USD/barel (+8,2%)
- Rupiah setara: Sekitar Rp 1,7 juta per barel
Peningkatan harga ini tidak hanya berdampak pada produsen minyak, tetapi juga pada konsumen akhir, industri penerbangan, transportasi darat, dan sektor manufaktur yang sangat bergantung pada bahan bakar fosil. Perusahaan-perusahaan besar melaporkan kenaikan biaya operasional, sementara pemerintah di berbagai negara mulai menyiapkan kebijakan penanggulangan inflasi energi.
Reaksi Internasional dan Langkah Penanggulangan
Negara-negara yang bergantung pada impor minyak dari kawasan Teluk, seperti Jepang, Korea Selatan, dan India, menyatakan keprihatinan mendalam. Mereka mengimbau dialog diplomatik untuk menghindari eskalasi lebih lanjut yang dapat memperparah krisis energi global. Di sisi lain, negara-negara anggota OPEC menegaskan komitmen mereka untuk menjaga kestabilan pasokan, meski menghadapi tekanan untuk menyesuaikan kuota produksi.
Beberapa analis pasar memperkirakan bahwa bila blokade berlanjut lebih dari satu minggu, harga minyak dapat menembus level 110 dolar AS per barel, memicu gelombang inflasi di negara-negara yang belum memiliki cadangan energi alternatif. Sementara itu, organisasi lingkungan menyoroti bahwa krisis energi ini dapat mempercepat pergeseran menuju sumber energi terbarukan, meski transisi tersebut memerlukan investasi jangka panjang.
Secara keseluruhan, blokade ganda di Selat Hormuz menimbulkan ketidakpastian yang signifikan bagi pasar global. Kebijakan ini menegaskan kembali betapa pentingnya jalur maritim strategis dalam menjaga kelancaran rantai pasok energi dunia. Keputusan selanjutnya, baik dari pihak Amerika Serikat maupun Iran, akan menentukan apakah krisis ini dapat diredam melalui diplomasi atau berlanjut menjadi konflik yang lebih luas.
Dengan harga minyak yang terus meroket, pemerintah dan pelaku industri di seluruh dunia dipaksa menyesuaikan strategi mereka, baik dalam hal kebijakan energi, diversifikasi sumber daya, maupun upaya mitigasi dampak inflasi. Masa depan pasar energi kini bergantung pada kemampuan diplomatik para pemimpin dunia untuk menemukan solusi yang dapat menenangkan ketegangan dan menjamin kelancaran aliran energi yang vital bagi perekonomian global.