Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 29 Mei 2026 | Dalam beberapa bulan terakhir, dunia kerja di berbagai sektor mengalami guncangan yang signifikan akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan besar. Salah satu yang paling mencolok adalah keputusan LA Lakers, klub basket terkemuka di NBA, yang baru-baru ini memutuskan hubungan kerja dengan lebih dari selusin karyawan.
PHK yang dilakukan oleh Lakers mencakup berbagai divisi, termasuk pemasaran, komunikasi, dan kemitraan korporasi. Langkah ini diambil setelah Mark Walter resmi mengambil alih kepemilikan klub dengan valuasi mencapai US$ 10 miliar, mengakhiri hampir 50 tahun kepemilikan keluarga Buss. Perubahan manajemen yang signifikan juga terjadi, dengan penunjukan Lon Rosen sebagai presiden operasi bisnis dan sejumlah rekrutan baru di jajaran manajemen.
Sementara itu, di Indonesia, dampak dari konflik geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran telah menimbulkan lonjakan harga bahan baku plastik, yang berdampak pada industri manufaktur. PT Combine Will Industrial Indonesia di Sragen terpaksa melakukan PHK massal terhadap 1.600 buruh kontrak akibat penurunan pesanan dan kenaikan harga bahan baku. Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Jawa Tengah, Ahmad Aziz, mengonfirmasi bahwa situasi ini terjadi di tengah lesunya kondisi pasar internasional.
Dalam proses verifikasi yang dilakukan, diketahui bahwa para pekerja yang kontraknya tidak diperpanjang tetap berhak atas kompensasi melalui BPJS Ketenagakerjaan. Meskipun tidak mendapatkan pesangon karena status kontrak mereka, para pekerja tersebut memperoleh manfaat Jaminan Hari Tua dan Jaminan Kehilangan Pekerjaan.
Pemerintah daerah juga berusaha untuk membantu para buruh yang terdampak dengan membuka akses penyaluran kerja baru. Hingga saat ini, sebagian dari mereka telah berhasil mendapatkan pekerjaan baru di perusahaan-perusahaan lain di wilayah Sragen.
Selain itu, fenomena baru di dunia kerja juga menunjukkan bahwa banyak karyawan yang merasa tertekan dan cemas kehilangan pekerjaan akibat perkembangan kecerdasan buatan (AI). Peneliti dari University of Florida memperkenalkan istilah Artificial Intelligence Replacement Dysfunction (AIRD) untuk menggambarkan kondisi mental yang dialami oleh pekerja yang merasa terancam oleh keberadaan AI di tempat kerja. Gejala seperti kecemasan berlebihan dan insomnia mulai banyak dilaporkan di kalangan pekerja.
Dengan berbagai faktor yang menyebabkan PHK, baik di sektor olahraga maupun industri, tampaknya dunia kerja akan terus beradaptasi dengan perubahan yang terjadi. Perusahaan-perusahaan harus mempertimbangkan kesejahteraan karyawan dalam setiap keputusan yang diambil, terutama di tengah ketidakpastian global dan perkembangan teknologi yang pesat.
Situasi ini menuntut semua pihak untuk berkolaborasi dalam mencari solusi yang dapat mengurangi dampak negatif dari PHK, termasuk meningkatkan program pelatihan dan pengembangan keterampilan untuk membantu pekerja beradaptasi dengan tuntutan pasar yang berubah.













