Waspada! Harga BBM Non Subsidi Akan Naik, Bahlil Lahadalia Ungkap Detail Perhitungan

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 10 April 2026 | JAKARTA, 10 April 2026 – Pemerintah mengumumkan akan menyesuaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non‑subsidi, meliputi RON 92, RON 95, RON 98, serta solar Pertamina Dex. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa perubahan harga baru dapat dilaksanakan setelah seluruh perhitungan selesai.

Dalam konferensi pers yang digelar di Istana Kepresidenan pada Kamis, 9 April, Bahlil menjelaskan bahwa proses penyesuaian melibatkan koordinasi intensif dengan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) seperti PT Pertamina (Persero) dan perusahaan swasta yang bergerak di sektor energi. “Mengenai BBM RON 92, 95, 98 termasuk dengan solar yang Pertamina Dex itu, nanti kita akan melakukan penyesuaian setelah perhitungan selesai,” ujarnya.

Baca juga:
Indonesia Kampiun Energi: JP Morgan Angkat Indonesia ke Peringkat Kedua Dunia, Strategi Prabowo Dipuji Pengamat

Faktor-faktor yang Mendorong Penyesuaian Harga

  • Ekspektasi harga minyak mentah dunia (ICP) yang diproyeksikan mencapai USD 100 per barel pada akhir tahun, menambah tekanan pada biaya impor.
  • Perubahan nilai tukar rupiah terhadap dolar yang dapat memengaruhi biaya produksi dan distribusi.
  • Kebutuhan menyeimbangkan anggaran subsidi BBM bersubsidi yang tetap dijaga tidak naik hingga akhir tahun, sebagaimana disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

Bahlil menambahkan bahwa pemerintah masih melakukan “exercise” atau simulasi untuk memastikan bahwa penyesuaian harga tidak menimbulkan beban berlebih bagi konsumen, sekaligus menjaga kestabilan fiskal. Ia juga mengungkapkan harapan bahwa harga minyak mentah dunia akan mengalami koreksi ke arah yang lebih rendah, yang akan memberi ruang bagi penurunan harga BBM non‑subsidi.

Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa sebelumnya menegaskan bahwa kebijakan subsidi BBM telah dihitung secara matang dengan mempertimbangkan berbagai skenario, termasuk asumsi harga minyak dunia mencapai USD 100 per barel. Kebijakan tersebut memastikan bahwa harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun, memberikan sedikit napas bagi pengguna kendaraan bermotor yang mengandalkan bahan bakar bersubsidi.

Penghitungan yang sedang berlangsung tidak hanya melibatkan pemerintah, melainkan juga pihak-pihak swasta. Bahlil menekankan pentingnya transparansi dan kolaborasi dalam proses ini: “Tapi sampai dengan sekarang kita masih melakukan perhitungan dengan badan usaha seperti Pertamina dan swasta,” tuturnya.

Baca juga:
Bayer Guncang Dunia Farmasi: AI, Regulasi, dan Inovasi Besar Menanti 2030

Dampak Potensial Bagi Konsumen dan Sektor Industri

Jika harga BBM non‑subsidi dinaikkan, dampaknya akan terasa di berbagai sektor. Transportasi umum, logistik, serta industri manufaktur yang bergantung pada bahan bakar ini diperkirakan akan menghadapi kenaikan biaya operasional. Konsumen pribadi yang menggunakan kendaraan pribadi juga akan merasakan kenaikan biaya harian, terutama pada rute-rute panjang.

Namun, pemerintah berupaya meminimalisir efek guncangan tersebut dengan menjaga harga BBM bersubsidi tetap stabil. Kebijakan ini diharapkan dapat menyeimbangkan kepentingan ekonomi makro dengan kesejahteraan masyarakat.

Pengumuman ini menambah spektrum dinamika pasar energi Indonesia, di mana faktor eksternal seperti geopolitik, kebijakan OPEC, serta fluktuasi nilai tukar tetap menjadi variabel penting. Pengamat energi memperkirakan bahwa keputusan akhir mengenai kenaikan harga BBM non‑subsidi akan diumumkan dalam beberapa minggu ke depan, setelah semua skenario dihitung secara menyeluruh.

Baca juga:
Citilink Pecahkan Rekor: 45.000 Penumpang Harian di Arus Balik H+2, Mengguncang Layanan Lebaran

Dengan latar belakang tersebut, konsumen disarankan untuk memantau perkembangan kebijakan harga BBM secara berkala, sekaligus menyiapkan strategi penghematan bahan bakar, seperti penggunaan kendaraan yang lebih efisien atau beralih ke transportasi umum bila memungkinkan.