Drama Evakuasi 9 Jam: Lisa Pratiwi Tertahan di Bawah Batu Air Terjun Tibu Ijo Lombok

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 10 April 2026 | Insiden dramatis yang menimpa Lisa Pratiwi (25) di Air Terjun Tibu Ijo, Lombok Barat, menjadi sorotan utama minggu ini setelah tim SAR berhasil mengevakuasi jenazahnya setelah hampir sembilan jam berjuang menembus bebatuan besar yang menjerat tubuh korban.

Latar Belakang dan Kronologi

Pada Minggu, 5 April 2026, Lisa Pratiwi, seorang warga Ampenan yang sedang berwisata bersama teman-temannya, tiba‑tiba terseret aliran deras air bah yang meluap akibat curah hujan tinggi. Air terjun Tibu Ijo, yang terletak di kawasan Gunung Sari, Lombok Barat, dikenal memiliki kolam alami yang dikelilingi batu‑batu besar. Ketika arus meningkat, Lisa terperangkap di antara beberapa bongkahan batu besar di dasar kolam, sehingga tubuhnya terjepit dan tidak dapat mengangkat diri.

Baca juga:
Kejutan Emas Darurat: Ibu Hamil Selamat dari Rumah Amblas di Bantargadung, Sukabumi

Upaya Penyelamatan

Tim SAR Gabungan Lombok, yang dipimpin oleh Dewa Gede Kerta selaku Koordinator Lapangan Tim Pencari, segera dikerahkan setelah laporan kehilangan diterima sekitar pukul 09.30 WIB. Mengingat kondisi cuaca yang tidak menentu dan debit air yang berubah‑ubah, tim menggunakan peralatan khusus, termasuk drone termal untuk memetakan area sulit dijangkau serta perahu penangkap arus. Selama proses pencarian, para penyelamat menghadapi aliran deras, bebatuan licin, dan visibilitas terbatas.

Setelah menelusuri zona bahaya selama lebih dari tiga jam, tim berhasil menemukan posisi tepat Lisa pada pukul 15.45 WIB. Namun, tubuhnya masih terjepit di antara dua bongkahan batu berukuran besar, sehingga proses pengangkatan memerlukan koordinasi antara penyelam, operator crane mini, dan tenaga medis di lapangan.

Proses Evakuasi Selama 9 Jam

Evakuasi dimulai pada sore hari, namun harus dihentikan sementara pada pukul 18.00 WIB karena kecurigaan adanya longsor batu tambahan yang mengancam keselamatan tim. Setelah menunggu kondisi air mereda, penyelamat kembali melanjutkan operasi pada dini hari. Penggunaan peralatan pengangkat hidrolik kecil memungkinkan tim menurunkan satu sisi batu secara perlahan, sambil menahan aliran air dengan tali penahan.

Baca juga:
Jembatan Cangar Dipasangi Pagar dan CCTV: Upaya Pemerintah Cegah Tragedi Bunuh Diri

Proses pengangkatan berlangsung secara bertahap, dengan jeda setiap satu jam untuk memeriksa kestabilan struktur batu dan memastikan tidak ada risiko tambahan bagi penyelamat. Akhirnya, pada pukul 00.30 WIB tanggal 8 April 2026, jenazah Lisa berhasil dibebaskan dan diangkat ke permukaan air menggunakan perahu darurat yang telah dipersiapkan sebelumnya.

Penanganan Medis dan Pengiriman ke Rumah Sakit

Setelah berhasil dievakuasi, jenazah langsung dipindahkan ke mobil ambulans khusus yang dilengkapi pendingin. Tim medis melakukan pemeriksaan visual untuk memastikan tidak ada risiko kontaminasi cairan berbahaya sebelum menurunkan jenazah ke rumah sakit. Pada pukul 02.10 WIB, jenazah Lisa tiba di Rumah Sakit Bayangkara Polda NTB di Mataram, kemudian diserahkan kepada keluarga pada pagi hari berikutnya.

Faktor Penyebab dan Pembelajaran

Beberapa faktor menjadi penyebab utama tragedi ini, antara lain peningkatan debit air yang tiba‑tiba akibat hujan lebat, kurangnya peringatan dini di area wisata, serta medan berbatu yang rawan terjepit. Tim SAR menegaskan pentingnya pemasangan papan peringatan dan penutupan sementara lokasi wisata saat kondisi cuaca ekstrem.

Baca juga:
Misteri Pamit Jaring Ikan: Pria 30 Tahun Diduga Tenggelam di Muara Sungai Opak, Bantul

Insiden serupa juga terjadi beberapa hari sebelumnya, ketika pelajar Heri Saputra (16) tewas setelah terseret air bah di Air Terjun Temburun Nanas. Kedua kasus menegaskan perlunya koordinasi lebih erat antara otoritas daerah, pengelola wisata, dan aparat SAR dalam penanganan bencana alam mikro.

Dengan selesainya operasi pencarian dan evakuasi, pihak berwenang menghimbau masyarakat untuk selalu memantau informasi cuaca, menghindari area aliran sungai pada kondisi hujan deras, serta mengikuti arahan petugas di lapangan. Kesiapsiagaan dan edukasi keselamatan menjadi kunci utama untuk mencegah tragedi serupa di masa mendatang.