AS Tunda Pengadaan Rudal Antiradar: Celah Baru Bagi Rusia & China Tekan Kekuatan F-35

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 25 April 2026 | Angkatan Laut Amerika Serikat mengumumkan penundaan sementara pengembangan dan pengadaan rudal antiradar generasi terbaru, AGM-88G Advanced Anti‑Radiation Guided Missile‑Extended Range (AARGM‑ER). Keputusan itu tercermin dalam dokumen anggaran Tahun Fiskal 2027, yang memangkas hampir seluruh pembiayaan baru untuk program tersebut, menyisakan dana simbolik sebesar dua puluh ribu dolar AS. Penurunan pendanaan ini menandai perubahan drastis dibandingkan dukungan ratusan juta dolar pada tahun‑tahun sebelumnya.

Penundaan Pengadaan Rudal Antiradar

Program AARGM‑ER, yang dikembangkan oleh Northrop Grumman, dirancang sebagai versi peningkatan signifikan dari varian sebelumnya, AGM‑88E. Sistem ini mengintegrasikan pencari target radar gelombang milimeter aktif, perangkat lunak terbaru, serta pendorong baru yang meningkatkan jangkauan dan kecepatan. Redesign struktural, termasuk penghapusan sirip eksternal, memungkinkan rudal dibawa secara internal oleh pesawat siluman seperti F‑35 Lightning II. Namun, kendala teknis selama uji terbang dan tahap kualifikasi memaksa penundaan jadwal Initial Operational Capability (IOC) dari akhir 2024 menjadi akhir 2026, dengan proyeksi pengujian lanjutan mundur hingga 2028.

Baca juga:
Iranian Hackers Target US Critical Infrastructure: OT Devices on the Internet Under Siege

Dampak pada Kekuatan F‑35

Tanpa AARGM‑ER, platform utama Angkatan Laut—termasuk F/A‑18E/F Super Hornet, E/A‑18G Growler, dan varian laut F‑35—berpotensi kehilangan keunggulan kritis dalam menekan sistem pertahanan udara lawan. Rudal antiradar ini menjadi elemen penting untuk menembus jaringan pertahanan lawan yang semakin terintegrasi, khususnya di wilayah yang dipenuhi radar‑radar berkemampuan tinggi. Keterlambatan program dapat memaksa angkatan bersenjata Amerika Serikat mengandalkan varian lama yang kurang efektif, sekaligus menurunkan daya tempur kolektif dalam operasi multi‑domain.

Peluang bagi Rusia dan China

Penundaan ini membuka celah strategis bagi kompetitor utama, khususnya Rusia dan China, yang terus memperkuat kapabilitas anti‑radar mereka. Kedua negara telah mengembangkan rudal serupa dengan jangkauan lebih jauh dan kemampuan manuver yang semakin canggih. Dengan AARGM‑ER tertunda, risiko meningkat bahwa pesawat siluman Amerika Serikat akan menghadapi pertahanan udara yang lebih tangguh tanpa senjata yang dirancang khusus untuk menetralkan radar lawan.

Baca juga:
F-35 Amerika Terpaksa Mendarat Darurat Setelah Misi Tempur di Iran: Klaim Iran Serang Jet Stealth
  • Rusia dapat memperluas penyebaran S‑400 dan S‑500, meningkatkan zona penolakan udara di Eropa Timur.
  • China dapat menempatkan sistem radar berbasis frekuensi tinggi di Laut China Selatan, memperkuat kontrol wilayah maritim.
  • Kedua negara dapat menguji taktik baru yang memanfaatkan kekosongan kemampuan anti‑radar Amerika.

Prospek dan Tantangan Kedepan

Angkatan Laut AS berencana melanjutkan kembali pengadaan pada Tahun Fiskal 2028, namun dalam skala terbatas dengan rencana pembelian sekitar empat puluh unit, jauh di bawah kapasitas produksi sebelumnya. Total nilai pengadaan diproyeksikan mencapai sekitar 2,43 miliar dolar AS, dengan 435 unit telah dipesan hingga 2026 dan pengiriman awal dijadwalkan mulai tahun ini. Meskipun demikian, keberlanjutan program sangat tergantung pada penyelesaian masalah teknis, alokasi anggaran, dan prioritas strategis yang terus berubah di tengah persaingan geopolitik global.

Kesimpulannya, penundaan pengadaan rudal antiradar tidak hanya menunda modernisasi armada udara Amerika Serikat, melainkan juga memberi ruang bagi Rusia dan China untuk memperkuat posisi mereka di arena pertahanan udara. Keterlambatan ini menimbulkan pertanyaan serius mengenai kesiapan operasional F‑35 dalam menghadapi ancaman radar modern, sekaligus menuntut kebijakan pertahanan yang lebih adaptif untuk menutup celah strategis yang muncul.

Baca juga:
Ukraina Deklarasikan Hampir Capai Kesepakatan Damai Ukraina dengan Rusia: Apa Selanjutnya?

Tinggalkan komentar