Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 13 April 2026 | Dalam sebuah insiden yang menegangkan di Selat Hormuz pada 11 April 2026, dua kapal perusak milik Angkatan Laut Amerika Serikat—USS Frank E. Peterson (DDG-121) dan USS Michael Murphy (DDG-112)—diduga mencoba menembus selat strategis tersebut dengan menyamar sebagai kapal komersial milik Oman. Upaya penyamaran itu gagal; sistem pertahanan Rudal jelajah Iran berhasil mengunci kedua kapal, memaksa mereka mundur dalam hitungan menit.
Latar Belakang Operasi AS
Panglima Komando Pusat Amerika Serikat untuk Operasi Militer di Timur Tengah (CENTCOM), Laksamana Brad Cooper, menyatakan bahwa dua perusak sedang melakukan “operasi pembersihan ranjau laut” yang ditanam oleh Korps Pengawal Revolusi Islam Iran (IRGC) sejak konflik bersenjata yang dimulai pada 28 Februari 2026. Menurut pernyataan resmi CENTCOM, tujuan utama adalah membuka jalur pelayaran yang aman bagi perdagangan global, mengingat Selat Hormuz menjadi rute utama bagi sekitar satu per lima produksi minyak dunia.
Cooper menekankan, “Hari ini kami memulai proses membangun jalur baru, dan kami akan segera membagikan jalur aman ini kepada industri maritim untuk mendorong arus perdagangan yang bebas.”
Penolakan Iran dan Klaim Penangkapan
Iran dengan tegas menolak semua klaim AS. Juru bicara Markas Besar Khatam al‑Anbiya, Ebrahim Zolfaghari, menyatakan bahwa tidak ada kapal militer asing yang diizinkan melintasi Selat Hormuz tanpa izin eksplisit. Ia menegaskan, “Inisiatif untuk pelayaran dan pergerakan kapal apa pun berada di tangan Angkatan Bersenjata Republik Islam Iran.”
Menurut laporan media Iran, termasuk Press TV dan Reuters, kapal perusak AS berusaha menipu radar dengan menonaktifkan sistem pelaporan posisi (AIS) dan meniru identitas kapal komersial Oman yang biasanya melakukan transit di perairan selatan Laut Oman. Upaya ini terdeteksi oleh patroli IRGC di sekitar perairan dangkal dekat Fujairah. Sebuah rudal jelajah Iran kemudian mengunci kedua kapal, memberi mereka waktu kurang dari tiga puluh menit untuk berbalik arah sebelum risiko kehancuran total meningkat.
Reaksi Internasional dan Dampak Ekonomi
Insiden ini terjadi bersamaan dengan pertemuan tingkat tinggi antara delegasi Amerika Serikat, dipimpin Wakil Presiden JD Vance, dan delegasi Iran, dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf, di Islamabad, Pakistan. Pertemuan tersebut menandai kontak diplomatik pertama sejak Revolusi Islam Iran 1979 dan membahas isu-isu sensitif seperti program nuklir Iran, pembekuan aset, serta konflik Israel‑Lebanon.
Penutupan sebagian Selat Hormuz sejak serangan balasan pada akhir Februari telah menimbulkan lonjakan harga minyak dan gangguan logistik global. Jika jalur tersebut tetap tertutup, perkiraan dampak ekonomi mencakup peningkatan biaya pengiriman sebesar 8‑10% dan potensi penurunan pertumbuhan ekonomi global hingga 0,4 poin persentase pada kuartal berikutnya.
Analisis Militer dan Strategis
- Strategi penyamaran: Penggunaan taktik elektronik untuk mematikan AIS dan mengadopsi identitas kapal Omani menunjukkan tingkat risiko tinggi yang diambil AS untuk menguji batas kebebasan navigasi di wilayah yang dikuasai IRGC.
- Respons Iran: Deteksi cepat oleh radar IRGC dan peluncuran rudal jelajah menandakan kesiapan Iran dalam mempertahankan kontrol atas Selat Hormuz, meski hal itu meningkatkan ketegangan dengan kekuatan Barat.
- Implikasi diplomatik: Insiden ini dapat memperkeruh proses negosiasi di Islamabad, karena Iran dapat memanfaatkan keberhasilan penangkapan sebagai posisi tawar dalam diskusi mengenai gencatan senjata dan akses maritim.
Kesimpulan
Insiden dua perusak AS yang berusaha menembus Selat Hormuz dengan menyamar sebagai kapal Oman menyoroti kompleksitas geopolitik wilayah tersebut. Sementara AS menegaskan operasi pembersihan ranjau demi memastikan kebebasan navigasi, Iran menegaskan kedaulatan atas selat strategis itu dan menolak setiap pelanggaran tanpa izin. Pada saat yang sama, perundingan diplomatik di Islamabad berusaha mencari jalan tengah yang dapat meredakan ketegangan. Bagaimana kedua belah pihak menyeimbangkan kepentingan militer dan diplomatik akan menentukan stabilitas maritim di salah satu jalur perdagangan paling vital di dunia.