Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 09 April 2026 | JAKARTA – Militer Israel pada Selasa (7 April 2026) menyatakan penyesalan atas kerusakan yang tidak disengaja pada Sinagoge Rafi‑Nia di ibu kota Iran, Teheran, setelah melakukan serangan yang menargetkan komandan senior Angkatan Bersenjata Iran.
Latar Belakang Serangan
Pada dini hari, pasukan pertahanan Israel (IDF) melancarkan operasi udara terhadap markas darurat “Khatam al‑Anbiya” yang menurut pernyataan militer Israel menampung komandan senior rezim Iran. Serangan tersebut menggunakan amunisi presisi dan dipantau melalui sistem pengawasan udara untuk meminimalisir korban sipil.
Namun, karena letak sinagoge yang berada berdekatan dengan target militer, bangunan rumah ibadah Rafi‑Nia mengalami kerusakan parah hingga hancur total. Tidak ada laporan korban jiwa di dalam sinagoge, namun dampak struktural mempengaruhi wilayah sekitar, termasuk gedung‑gedung hunian yang berada di sebelahnya.
Reaksi Komunitas Yahudi Iran
Komunitas Yahudi di Iran mengecam keras serangan itu. Dalam pernyataan resmi mereka menuduh “musuh Amerika‑Zionis” telah melakukan aksi brutal terhadap tanah air dan tempat ibadah mereka. Perwakilan komunitas, Homayoun Sameh, menyatakan bahwa sinagoge Rafi‑Nia merupakan pusat spiritual bagi sekitar 8‑15 ribu orang Yahudi di Iran, dan kerusakan tersebut menimpa gulungan Taurat yang kini terperangkap di antara puing‑puing.
- Populasi Yahudi Iran diperkirakan antara 8.000 hingga 15.000 orang.
- Sinagoge Rafi‑Nia dikenal sebagai salah satu sinagoge tertua yang melayani komunitas Yahudi Khorasan.
- Serangan menyebabkan kerusakan pada struktur eksternal dan interior sinagoge serta bangunan sekitarnya.
Korban dan Dampak Lainnya
Selain kerusakan pada sinagoge, serangkaian serangan AS‑Israel di wilayah Iran pada pagi hari yang sama menewaskan setidaknya 15 orang. Enam korban tewas di kota Pardis, timur Teheran, dan sembilan lainnya di Shahriar, barat ibu kota. Pihak militer Israel menegaskan bahwa target utama adalah fasilitas militer, bukan lokasi sipil.
Langkah Diplomatik Terbaru
Setelah insiden tersebut, Amerika Serikat dan Iran sepakat mengadakan gencatan senjata selama dua minggu, yang mencakup pembukaan kembali Selat Hormuz. Negosiasi damai dijadwalkan dimulai di Islamabad, Pakistan, pada Jumat (10 April 2026), dengan harapan menurunkan ketegangan yang semakin memuncak di kawasan Timur Tengah.
Israel belum mengeluarkan pernyataan lanjutan mengenai kompensasi atau bantuan rekonstruksi bagi komunitas Yahudi Iran. Sementara itu, pihak berwenang Iran menyatakan akan menindak tegas semua pihak yang terlibat dalam serangan tersebut, sekaligus memperkuat pertahanan sipil di wilayah strategis.
Kejadian ini menyoroti kerentanan situs keagamaan dalam konflik bersenjata modern, sekaligus menimbulkan pertanyaan tentang efektivitas penggunaan amunisi presisi dalam lingkungan perkotaan yang padat. Komunitas internasional terus memantau perkembangan, dengan organisasi hak asasi manusia menyerukan investigasi independen untuk memastikan akuntabilitas.
Secara keseluruhan, pernyataan penyesalan militer Israel menjadi titik balik penting dalam narasi konflik Israel‑Iran, sekaligus membuka peluang diplomatik baru yang dapat mengurangi risiko eskalasi lebih lanjut. Namun, kerusakan pada sinagoge Rafi‑Nia dan korban jiwa yang terjadi menegaskan bahwa setiap operasi militer, sekalipun ditujukan pada target militer, tetap memiliki konsekuensi kemanusiaan yang signifikan.