Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 02 July 2026 | Pameran Seni Menyibak Kabut Menghadirkan Kembali Jejak dan Warisan Perupa Zaini adalah sebuah pameran retrospektif yang diselenggarakan di Galeri Cipta I & II Gd. Trisno Soemardjo, Taman Ismail Marzuki. Pameran ini bertujuan untuk menghadirkan kembali jejak dan warisan perupa Zaini, yang merupakan salah satu pelukis terkemuka di Indonesia.
Zaini lahir di Pariaman, Sumatra Barat, dan merupakan bagian dari generasi perupa Minangkabau yang membantu menggeser seni rupa Indonesia dari estetika Mooi Indië menuju bahasa visual yang lebih modern dan mandiri. Perjalanan artistiknya dibentuk oleh sejumlah nama besar seperti Wakidi, S. Sudjojono, dan Basoeki Abdullah, sebelum kemudian bergabung dengan kelompok Pelukis Rakyat yang didirikan Affandi dan Hendra Gunawan.
Pameran Seni Menyibak Kabut Menghadirkan Kembali Jejak dan Warisan Perupa Zaini menampilkan karya-karya Zaini yang dipilih oleh kurator Ibrahim Soetomo. Karya-karya ini mencakup lukisan-lukisan lanskap yang puitis dan ekspresif, sketsa, gambar, vinyet, dan monotipe. Salah satu karya yang paling menyita perhatian adalah Demonio (1961), sebuah lukisan abstrak yang mempertemukan energi modernisme dengan simbolisme Garuda dalam tradisi Nusantara.
Pameran ini juga menampilkan bagaimana Zaini mengolah warna dalam karyanya. Ia menggunakan teknik yang unik, yaitu mencampurkan warna-warna di atas palet sehingga menghasilkan gradasi yang terasa mengambang, seolah diselimuti kabut. Makna judul Menyibak Kabut mulai menemukan konteksnya, yaitu sebagai sebuah pameran yang tidak hanya menghadirkan kembali karya-karya Zaini, tetapi juga menelusuri riwayat pameran, arsip, kepemilikan, hingga cerita yang menyertainya.
Menyibak Kabut bukan sekadar pameran retrospektif untuk memperingati seabad kelahiran Zaini. Pameran ini menunjukkan bahwa sebuah karya seni tidak hanya bertahan karena cat di atas kanvas, tetapi juga karena selalu ada orang-orang yang merawat arsip, melacak jejaknya, dan menghadirkannya kembali ke ruang publik. Barangkali itulah makna paling penting dari menyibak kabut: bukan hanya melihat kembali lukisan-lukisan Zaini, tetapi juga menemukan kembali ingatan yang selama ini perlahan menghilang dari sejarah seni rupa Indonesia.













