Mira Rizki Menggunakan Bunyi sebagai Media untuk Mengungkapkan Kehadiran

banner 468x60

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 08 July 2026 | Mira Rizki adalah seorang perupa yang menggunakan bunyi sebagai media untuk mengungkapkan kehadiran. Melalui praktik seni bunyi, ia menghadirkan kembali hal-hal yang selama ini luput kita dengarkan.

Ketertarikan Mira pada bunyi berawal ketika masih menempuh studi di Institut Teknologi Bandung. Berasal dari latar belakang musik dan sempat aktif bermain band, ia kemudian diperkenalkan pada praktik seni bunyi oleh salah satu seniornya di kampus.

banner 336x280

Menariknya, Mira lebih memilih menggunakan kata bunyi daripada suara. Baginya, bunyi memiliki kemungkinan yang jauh lebih luas. "Ada bunyi itu penanda bahwa sesuatu telah terjadi," ujarnya. "Bunyi punya kekuatannya sendiri untuk memperlihatkan bahwa sesuatu hadir atau eksis."

Karya Mira yang lampau, Rebak Raung Warga, pernah dipamerkan di Museum MACAN, merekam bunyi-bunyian dari permukiman di Kecamatan Regol untuk melihat bagaimana pandemi mengubah relasi warga dengan ruang dan orang asing. Empat tahun kemudian, dalam Grrrm (Muted) yang dipamerkan di ARTJOG 2026, bunyi yang ia hadirkan bukan lagi tentang ruang fisik, melainkan ketakutan, kecemasan, frustrasi, dan harapan yang tertahan sebagai jejak material.

Gagasan itu mencapai bentuk yang lebih utuh dalam Geram Teredam. Karya ini berangkat dari 21 rekaman pengakuan para pekerja kreatif, petani, hingga staf institusi yang menceritakan kegelisahan mereka sebagai warga Indonesia. Melalui panggilan terbuka yang diselenggarakan di Institut Cemeti, Yogyakarta, Mira mengundang masyarakat untuk berbagi pengalaman yang selama ini sulit mereka ucapkan di ruang publik.

Alih-alih memutar rekaman itu apa adanya, Mira justru menempelkan speaker langsung ke pelat aluminium sehingga suara berubah menjadi distorsi. "Justru suara yang mampet itu yang aku suka," ujarnya. "Distorsinya yang menjadi highlight. Kenapa dia jadi teredam seperti ini? Di situ poin utamanya."

Distorsi yang biasanya dianggap sebagai gangguan justru menjadi bahasa utama dalam karya ini. Bukan untuk menyembunyikan makna, melainkan memberi ruang bagi penonton untuk mendekat, menyimak, dan menangkap petunjuk-petunjuk yang tersisa.

Getaran tersebut kemudian dipindahkan ke atas rosin, resin alami dari pohon pinus yang merekam pola-pola vibrasi menjadi bentuk fisik. Lembaran-lembaran rosin yang nyaris transparan itu menjadi semacam arsip material bagi bunyi yang secara alami hanya hadir sesaat. Bagi Mira, ini adalah upaya memperpanjang usia sesuatu yang pada dasarnya fana. Yang tersisa bukan lagi bunyinya, melainkan jejak dari sebuah peristiwa yang pernah bergetar.

Bagi Mira Rizki, bunyi bukan sekadar sesuatu yang didengar. Bunyi adalah penanda keberadaan. Ia menunjukkan bahwa sesuatu sedang bergerak, seseorang sedang hadir, atau sebuah peristiwa baru saja berlangsung. Dari pemahaman sederhana itulah praktik artistiknya berkembang.

Melalui praktik seninya, Mira Rizki memperlihatkan bahwa bunyi tidak pernah sekadar persoalan akustik. Ia dapat menghadirkan keberadaan seseorang, menyimpan ingatan sebuah tempat, merekam kemarahan dan kecemasan yang sulit diucapkan, sekaligus membuka ruang bagi suara orang-orang yang selama ini jarang terdengar.

banner 336x280
Baca juga:
Baca juga:
Baca juga:

Tinggalkan Balasan