Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 30 April 2026 | Menjelang pelaksanaan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama (PBNU) yang dijadwalkan akhir Juli atau awal Agustus 2026, suasana internal organisasi semakin tegang. Lebih dari sekadar pemilihan Ketua Umum, forum ini kini menjadi arena perebutan kekuasaan, kepentingan politik, dan ekonomi yang melibatkan beragam jaringan elite.
Persiapan Muktamar ke-35
Pengurus Besar NU secara resmi mengumumkan bahwa persiapan teknis dan administratif telah memasuki fase akhir. Rangkaian rapat koordinasi, pemetaan wilayah suara, serta penetapan mekanisme voting telah diselesaikan. Meskipun demikian, tekanan eksternal mulai terlihat, terutama dari partai politik dan organisasi kemasyarakatan yang berharap memanfaatkan momen tersebut untuk memperkuat basis mereka.
Pertarungan Elite di Balik Layar
Yahya Cholil Staquf masih menjabat sebagai petahana, namun ia kini tengah bernegosiasi untuk menentukan figur Rais Aam yang dapat memperluas dukungan. Di sisi lain, Miftachul Akhyar bersama Saifullah Yusuf mulai merumuskan langkah strategis, termasuk kemungkinan pasangan calon. Nama Nazaruddin Umar juga muncul sebagai kandidat potensial yang diyakini memiliki sokongan dari lingkar kekuasaan.
Poros Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) dan Ikatan Keluarga Alumni PMII (IKA PMII) mengusulkan Said Aqil Siradj sebagai calon Rais Aam, sementara kekuatan Jawa Timur mendorong figur seperti Abdul Hakim Mahfuz dan Marzuki Mustamar. Dinamika ini menghasilkan beragam skenario pasangan yang terus beredar di kalangan pengurus dan tokoh pesantren.
Peringatan dari Kalangan Pesantren
Beberapa tokoh pesantren mengingatkan bahwa forum Muktamar harus tetap steril dari politik praktis dan kepentingan ekonomi. Mereka menegaskan bahwa NU harus mempertahankan kemandirian moral sebagai kekuatan umat, bukan menjadi alat permainan politik. Peringatan ini muncul bersamaan dengan laporan tentang upaya lobi intensif dari jaringan partai dan kelompok bisnis.
Peta Koalisi dan Suara
Analisis awal menunjukkan bahwa jaringan PKB‑IKA PMII menguasai sekitar 250 suara, jaringan yang beririsan dengan Kementerian Agama sekitar 130 suara, sementara basis petahana dan kelompok Rais Aam masing-masing memperoleh kira‑kira 100 suara. Puluhan suara lainnya masih belum menentukan pilihan, sehingga proses pendekatan dan lobi terus berlanjut.
Muhaimin Iskandar, ketua PKB, diperkirakan berperan strategis di balik layar, mengoordinasikan aliansi antara partai politik dan ormas Islam. Koalisi luas yang melibatkan PKB‑PMII dianggap dapat memperkuat posisi dalam kontestasi internal, namun juga menimbulkan risiko fragmentasi bila tidak ada titik temu.
Ancaman Kepentingan Politik dan Ekonomi
Berita-berita terkini mengindikasikan potensi masuknya kepentingan ekonomi melalui sponsor dan dukungan material bagi kandidat tertentu. Beberapa analis mengkhawatirkan bahwa Muktamar ke-35 dapat berakhir sebagai arena pertarungan praktis, mengorbankan nilai‑nilai spiritual yang selama ini dijaga NU. Oleh karena itu, menjaga kebersihan proses pemilihan menjadi tantangan utama bagi seluruh elemen organisasi.
Secara keseluruhan, Muktamar ke-35 tidak hanya sekadar ajang pemilihan pemimpin, melainkan juga penentu arah masa depan NU. Apakah organisasi ini akan tetap menjadi kekuatan moral umat atau terjerumus dalam politik praktis, akan terungkap dalam proses pemungutan suara yang dijadwalkan pada pertengahan Agustus 2026.