Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 10 April 2026 | JAKARTA – Pada Rabu (8/4/2026), Iran kembali menutup Selat Hormuz setelah serangan militer besar-besaran Israel ke Lebanon. Penutupan itu terjadi tepat bersamaan dengan gencatan senjata dua minggu yang baru disepakati antara Amerika Serikat dan Tehran, menambah ketegangan di wilayah strategis yang mengalirkan sekitar tiga persen pasokan minyak dunia setiap hari.
Latihan militer Israel di Lebanon
Israel melancarkan operasi koordinasi terbesar sejak awal konflik, menargetkan lebih dari seratus pos militan Hizbullah di Beirut, selatan Lebanon, dan Lembah Bekaa. Menurut laporan militer Israel, serangan berlangsung selama sepuluh menit dan menewaskan lebih dari 250 orang, sebagian besar merupakan anggota kelompok bersenjata yang didukung Iran. Presiden Israel Benjamin Netanyahu menegaskan bahwa Lebanon tidak termasuk dalam kesepakatan gencatan senjata yang dibahas dengan Washington.
Reaksi Iran: Penutupan Selat Hormuz
Otoritas Revolusi Islam Iran (IRGC) segera mengumumkan penutupan Selat Hormuz sebagai balasan atas serangan Israel. Pada pagi hari Rabu, dua kapal tanker mendapat izin singkat untuk melintas, namun lalu lintas kembali dihentikan tak lama kemudian. Iran menyatakan tindakan itu merupakan langkah defensif untuk melindungi kepentingan strategisnya dan menekan Israel serta sekutunya.
Pernyataan Gedung Putih
Karoline Leavitt, Sekretaris Pers Gedung Putih, menyatakan bahwa penutupan Selat Hormuz “tidak dapat diterima” dan menuntut agar Tehran membuka kembali jalur tersebut “segera dan aman”. Leavitt menambahkan bahwa prioritas utama Amerika Serikat adalah memastikan jalur pelayaran beroperasi tanpa hambatan, termasuk tanpa pungutan biaya tambahan untuk kapal yang melintas.
Sementara itu, Presiden AS Donald Trump menegaskan kembali bahwa gencatan senjata antara AS dan Iran tidak mencakup Lebanon, sehingga serangan Israel tidak mengubah komitmen kedua negara untuk menjaga stabilitas kawasan.
Klaim “Berita Palsu” dari Washington
Beberapa pejabat Amerika menyebut laporan penutupan Selat Hormuz sebagai “kabar palsu”. Klaim ini muncul bersamaan dengan laporan media pemerintah Iran yang menyatakan penutupan tersebut telah dilaksanakan. Pihak AS menilai bahwa dua kapal tanker yang sempat lewat menunjukkan bahwa selat belum sepenuhnya ditutup, dan menuduh Iran mencoba memanipulasi opini publik internasional.
Dampak ekonomi global
Selat Hormuz adalah salah satu titik krusial dalam rantai pasokan energi dunia. Penutupan atau gangguan di jalur ini dapat memicu lonjakan harga minyak mentah, memperburuk inflasi, dan menambah beban pada negara‑negara pengimpor energi. Analis pasar memperkirakan bahwa jika penutupan berlanjut lebih dari 48 jam, harga Brent dapat naik hingga 5‑7 persen.
Selain itu, ketidakpastian ini menambah tekanan pada pasar energi alternatif dan mempercepat diskusi tentang diversifikasi sumber energi di kawasan Asia‑Pasifik.
Situasi di Selat Hormuz masih sangat dinamis. Meskipun dua tanker berhasil melintas pada pagi Rabu, IRGC melaporkan bahwa semua kapal lain telah dihentikan. Pemerintah Iran belum memberikan batas waktu resmi untuk membuka kembali selat, sementara Washington terus mendesak melalui saluran diplomatik dan ancaman sanksi tambahan.
Dengan gencatan senjata yang baru saja dimulai, kedua belah pihak tampak berada pada titik krusial. Jika Iran tetap menutup selat, risiko eskalasi militer antara Tehran dan Washington dapat meningkat, mengancam keamanan maritim internasional. Sebaliknya, pembukaan kembali selat tanpa jaminan keamanan dapat menimbulkan kekhawatiran bagi Iran tentang potensi serangan lanjutan terhadap kepentingannya.
Berita ini terus berkembang seiring dengan upaya diplomatik yang dilakukan oleh Amerika Serikat, Uni Eropa, dan negara‑negara Teluk untuk menengahi solusi yang dapat menjaga aliran minyak sekaligus menurunkan ketegangan regional.