Menkeu Purbaya Curhat Sakit Pinggang: 8 Suntikan Penyelamat, APBN Tetap Stabil!

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 26 April 2026 | Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan keluhan pribadi yang cukup menggelitik hati pada sebuah Media Briefing di BPPK Purnawarman, Jakarta Selatan, Jumat (24/4/2026). Saat itu, ia tampak beberapa kali memegangi pinggangnya dan harus bertumpu pada bahu timnya untuk berjalan setelah acara selesai.

“Sampai sekarang sakit juga, ini sakit pinggang. Ini disuntik kemarin 8 titik. Kalau nggak, nggak bisa berdiri nih,” ujar Purbaya menjawab pertanyaan wartawan mengenai rasa sakit yang ia rasakan. Suntikan tersebut, menurutnya, merupakan prosedur medis yang diperlukan untuk mengurangi nyeri akut sehingga ia dapat kembali beraktivitas secara normal.

Baca juga:
IHSG Meroket 3,39% Usai Pengumuman FTSE, Saham Konglomerat Menggeliat

Kelelahan Jadi Penyebab Utama

Purbaya menambahkan bahwa nyeri pinggangnya berakar dari kelelahan. “Sakit pinggang itu biasa kali kecapekan. Lu (wartawan) nanya gue susah-susahnya jadi susah gue,” katanya sambil berkelakar. Pernyataan ini menggambarkan beban kerja tinggi yang dijalani pejabat tinggi, terutama di tengah agenda intensif penyusunan anggaran negara.

APBN Masih Sehat, Masyarakat Tidak Perlu Khawatir

Di tengah curhat kesehatan pribadi, Purbaya juga menyampaikan kabar baik mengenai kondisi keuangan negara. Ia menegaskan bahwa Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap berada pada posisi yang aman dan mampu menopang seluruh program pemerintah. Menurutnya, tidak ada dasar untuk khawatir meskipun beredar rumor bahwa kas negara hanya tersisa Rp 120 triliun.

Rumor tersebut, jelas Purbaya, tidak akurat. Angka Rp 120 triliun yang beredar sebenarnya merupakan bagian dari Saldo Anggaran Lebih (SAL) yang ditempatkan di Bank Indonesia. Total SAL mencapai Rp 420 triliun, yang terbagi menjadi dua komponen utama:

Baca juga:
Rupiah Terlemah Catat Rekor Baru: Tekanan Global dan Kebijakan Domestik Memicu Fluktuasi
  • Rp 120 triliun disimpan di Bank Indonesia sebagai cadangan likuiditas.
  • Rp 300 triliun lainnya ditempatkan di perbankan dalam bentuk deposito on call, yang dapat dicairkan kapan saja sesuai kebutuhan pemerintah.

Dengan struktur keuangan tersebut, pemerintah memiliki fleksibilitas tinggi untuk mengatasi kebutuhan mendadak tanpa mengorbankan stabilitas fiskal.

Implikasi Bagi Kebijakan Publik

Penegasan Purbaya tentang kesehatan fiskal negara memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar, investor, dan masyarakat luas. Ketersediaan dana yang cukup memastikan kelanjutan proyek infrastruktur, subsidi, serta program kesejahteraan sosial yang telah direncanakan dalam APBN 2026. Selain itu, kepastian ini juga menurunkan risiko volatilitas pasar valuta asing yang seringkali dipicu oleh spekulasi kekurangan kas negara.

Meski harus menjalani perawatan medis, Menkeu Purbaya menegaskan komitmennya untuk terus memantau dan mengendalikan kebijakan ekonomi. Ia mengajak publik untuk tidak terpengaruh oleh informasi yang tidak terverifikasi, melainkan fokus pada data resmi yang dikeluarkan Kementerian Keuangan.

Baca juga:
Pengamat Ekonomi Ungkap: Harga BBM Tetap Stabil hingga 2026, Dampaknya pada Inflasi dan Pertumbuhan Ekonomi Lebih Ringan dari Perkiraan

Secara keseluruhan, curhat sakit pinggang Menkeu Purbaya sekaligus penegasan kondisi keuangan negara menegaskan bahwa kesehatannya pribadi tidak mengurangi kemampuan pemerintah dalam mengelola perekonomian nasional. Dengan SAL yang kuat dan likuiditas yang terjaga, Indonesia tetap berada pada jalur pertumbuhan yang berkelanjutan.

Tinggalkan komentar