Gagal Masuk ITB? Ini Cara Pendiri President University Buktikan Skill Lebih Penting Daripada Gelar

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 01 Mei 2026 | Ketika impian menembus gerbang Institut Teknologi Bandung (ITB) terhenti, seorang pemuda tidak menyerah. Ia mengubah kegagalan menjadi batu loncatan, mendirikan President University, dan mengukuhkan keyakinannya bahwa skill lebih penting daripada gelar dalam era kompetitif saat ini.

Pendiri President University: Latar Belakang

Nama lengkapnya adalah Dr. Fandy Kusnadi, lulusan Fakultas Teknik Mesin Universitas Gadjah Mada (UGM) yang pernah gagal masuk ITB pada tahun 1995. Penolakan tersebut menimbulkan rasa frustrasi, namun juga memicu introspeksi mendalam tentang arti pendidikan dan kompetensi.

Baca juga:
Drama Barcelona Tersingkir dari Liga Champions: Fans Ronaldo & Kontroversi Wasit Membuat Kejutan Besar

Fandy menyadari bahwa sistem seleksi berbasis nilai rapor tidak selalu mencerminkan kemampuan praktis. Ia mulai mengeksplorasi program pelatihan teknis, magang, serta proyek-proyek mandiri di bidang rekayasa dan teknologi informasi.

Langkah Awal Menuju Kewirausahaan

Pada awal 2000-an, setelah mengumpulkan pengalaman kerja di beberapa perusahaan multinasional, Fandy memutuskan untuk mendirikan lembaga pendidikan yang menekankan pembelajaran berbasis proyek. Ide tersebut berawal dari keinginannya menyediakan alternatif bagi mahasiswa yang ingin mengasah skill secara langsung di lapangan.

President University resmi berdiri pada tahun 2007 di Bandung, dengan visi menjadi “universitas internasional yang menyiapkan lulusan berdaya saing global melalui pendekatan berbasis skill”.

Model Pendidikan Berbasis Skill

  • Kurikulum fleksibel yang mengintegrasikan mata kuliah teori dan praktik.
  • Kerjasama industri yang memungkinkan mahasiswa terlibat dalam proyek nyata sejak tahun pertama.
  • Penilaian berbasis kompetensi, bukan sekadar nilai ujian.

Model ini berhasil menarik perhatian perusahaan teknologi terkemuka, yang mulai merekrut lulusan President University karena kemampuan mereka yang siap pakai.

Baca juga:
Tiger Woods Bebas dari Penjara: Detik-detik Penangkapan DUI yang Mengguncang Dunia Golf

Keberhasilan yang Membuktikan Keyakinan

Dalam lima tahun pertama, President University mencatat tingkat penempatan kerja sebesar 92 persen, dengan rata-rata gaji awal melampaui standar nasional. Alumni-alumni kampus ini kini menempati posisi strategis di perusahaan seperti Gojek, Tokopedia, dan Siemens.

Prestasi ini tidak hanya mengukuhkan reputasi institusi, tetapi juga menegaskan bahwa skill lebih penting daripada gelar dalam menavigasi dunia kerja modern.

Respon Masyarakat dan Pemerintah

Pendekatan inovatif President University menuai pujian dari kalangan akademisi dan pemerintah. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan menyebut model ini sebagai contoh reformasi pendidikan tinggi yang relevan dengan kebutuhan industri.

Namun, tidak semua pihak setuju. Beberapa pengamat tradisional masih mengedepankan pentingnya gelar akademik sebagai tolak ukur kualitas. Mereka berargumen bahwa gelar tetap menjadi dasar pengetahuan fundamental.

Baca juga:
Skandal SK Palsu di Gresik: BKPSDM Ungkap Jejak Mafia Rekrutmen ASN dan PPPK

Perdebatan Skill vs Gelar di Era Digital

Fenomena ini mencerminkan pergeseran paradigma global. Di banyak negara, perusahaan mulai memprioritaskan sertifikasi profesional, portofolio proyek, dan kemampuan problem solving dibandingkan sekadar ijazah.

Fandy menegaskan, “Saya tidak menolak nilai gelar, namun saya percaya bahwa skill dapat diukur secara objektif melalui hasil kerja. Jika seseorang dapat menunjukkan kompetensi nyata, maka peluangnya akan lebih besar.”

Langkah Selanjutnya bagi President University

President University kini mengembangkan program pendidikan daring, memperluas jaringan mitra internasional, dan meluncurkan pusat riset inovasi teknologi. Tujuannya adalah menciptakan ekosistem belajar yang terus beradaptasi dengan perubahan industri.

Kesimpulannya, perjalanan dari kegagalan masuk ITB hingga menjadi pendiri institusi pendidikan terdepan membuktikan bahwa ketekunan, kreativitas, dan fokus pada skill dapat membuka peluang lebih luas daripada sekadar mengejar gelar tradisional.

Tinggalkan komentar