Tragedi Overwork Dokter: Dr. Myta Aprilia Meninggal Usai Rayakan Ultah ke-25, Jadwal Internsip Mematikan

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 03 Mei 2026 | Palembang – Kematian tragis dr. Myta Aprilia Azmi pada 1 Mei 2026 mengguncang dunia medis Indonesia. Dokter muda berusia 25 tahun ini baru saja merayakan ulang tahun ke-25 sebelum menghembuskan napas terakhirnya di ruang ICU RS Mohammad Hoesin (RSMH) Palembang. Kasusnya menimbulkan sorotan tajam terhadap beban kerja berlebih (overwork dokter) selama masa internship di RSUD K.H. Daud Arif.

Latar Belakang Kematian

Menurut keterangan keluarga, dr. Myta mengalami gejala sesak napas dan demam tinggi sejak Maret 2026. Meski sudah melaporkan kondisi kesehatannya, ia tetap dijadwalkan untuk menjalani tiga bulan penuh tanpa libur di bangsal dan instalasi gawat darurat. Pada 30 April, ia harus diintubasi dan ditempatkan pada ventilator di ICU RSMH. Kondisi tersebut berujung pada kematian pada 1 Mei.

Baca juga:
Ramalan Zodiak Aries Taurus 25 April 2026: Cinta, Karir, Kesehatan, dan Keuangan Terungkap!

Faktor-Faktor Penyebab

Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (IKA FK Unsri) mengeluarkan pernyataan resmi yang menyoroti beberapa dugaan pelanggaran serius:

  • Pelanggaran Jam Kerja: Jadwal kerja tiga bulan tanpa istirahat melanggar regulasi Kementerian Kesehatan yang mengatur batas maksimum jam kerja dokter internsip.
  • Ketiadaan Supervisi: Dr. Myta dikabarkan bekerja tanpa pengawasan langsung dari dokter definitif, bertentangan dengan ketentuan bahwa internsip harus didampingi oleh senior.
  • Kelalaian Medis dan Administratif: Laporan menyebutkan kekosongan obat penting seperti Sulbacef, memaksa pasien mencari obat di luar fasilitas.
  • Penolakan Permintaan Istirahat: Meskipun mengadu sesak napas sejak Maret, permintaan cuti atau penyesuaian jadwal tidak dipenuhi.

Semua faktor tersebut memperkuat dugaan overwork dokter yang menjadi pemicu utama kematian dr. Myta.

Reaksi Keluarga dan Alumni

Keluarga dr. Myta menyampaikan dukungan penuh terhadap investigasi yang dilakukan Kementerian Kesehatan. Ibu almarhumah mengunggah foto perayaan ulang tahun terakhir putrinya, yang kemudian menjadi viral dengan komentar “Panjang Umur Nak”. Sementara itu, alumni FK Unsri menuntut audit menyeluruh terhadap RSUD K.H. Daud Arif dan evaluasi sistem pendidikan kedokteran di Indonesia.

Baca juga:
TNI Tutup Pengusutan Kasus Teror Andrie Yunus: Motif Dendam Pribadi dan Pertimbangan Hukum

“Kami tidak dapat menerima bahwa seorang dokter muda yang baru saja merayakan ulang tahun ke-25 harus mengorbankan nyawanya karena sistem yang tidak manusiawi,” kata ketua IKA FK Unsri dalam pernyataan resmi.

Langkah Pemerintah dan Kemenkes

Kementerian Kesehatan belum mengeluarkan pernyataan resmi, namun keluarga dan alumni menuntut agar Kemenkes segera memulai penyelidikan independen. Mereka meminta transparansi penuh mengenai jam kerja, mekanisme supervisi, serta ketersediaan obat dan fasilitas medis di rumah sakit tempat dr. Myta bertugas.

Jika terbukti ada pelanggaran, alumni menuntut sanksi administratif bagi pihak rumah sakit serta revisi kebijakan internship untuk memastikan tidak terjadi lagi kasus serupa.

Baca juga:
Kista Bahu Akibat Kecanduan Padel: Mengapa Olahraga Populer Ini Bisa Menyebabkan Cedera Serius?

Implikasi bagi Sistem Pendidikan Kedokteran

Kematian dr. Myta menjadi alarm bagi seluruh institusi pendidikan kedokteran di Indonesia. Banyak pihak menilai bahwa kurikulum internship perlu menekankan pada kesejahteraan mental dan fisik mahasiswa kedokteran, bukan sekadar kuantitas jam kerja. Beberapa universitas kini mulai meninjau ulang program klinik mereka untuk menyesuaikan dengan standar internasional yang melindungi hak pekerja medis muda.

Kasus ini juga mengingatkan rumah sakit untuk memperbaiki manajemen sumber daya manusia, termasuk penyediaan obat esensial dan penegakan protokol supervisi yang ketat.

Dengan sorotan media yang terus meningkat, diharapkan tragedi overwork dokter ini tidak hanya menjadi berita sesaat, melainkan pemicu perubahan kebijakan yang nyata demi melindungi generasi dokter masa depan.

Tinggalkan komentar