Menguak Dedikasi Juru Kunci Makam Kudus: 18 Tahun Tanpa Gaji, Hanya Mengandalkan Keikhlasan

Berita Hari Ini Terlengkap di Asia – KGNews.asia – 30 April 2026 | Setiap pagi, Maslichan yang berusia 53 tahun membuka gerbang makam Pangeran Pospuyodo Singopadon di Desa Singocandi, Kudus. Dengan satu tangan yang tersisa, ia membersihkan area, menyambut peziarah, dan merawat kawasan makam selama hampir dua dekade tanpa menerima upah.

Latar Belakang dan Sejarah Makam

Makam Pangeran Pospuyodo Singopadon diperkirakan telah ada sejak abad ke-17. Pangeran tersebut pernah menjadi juru bicara Sunan Kudus, sehingga makamnya menjadi tempat ziarah penting bagi masyarakat setempat. Di dalam kompleks terdapat empat makam utama: Pangeran, istrinya, putrinya, dan menantunya.

Baca juga:
Tragedi Menggempar: Tampang Noval Tertangkap Membunuh Istri Kedua yang Hamil, Korban Sejak Lahir Penyandang Disabilitas

Perjalanan Maslichan Menjadi Juru Kunci Makam

Maslichan, seorang penyandang disabilitas asal Kudus, menggantikan ayahnya, Jasipan, yang sebelumnya menjabat sebagai juru kunci makam. Sejak tahun 2007, ia tinggal di rumah dinas tepat di depan makam dan melaksanakan tugasnya dengan ikhlas. Tangan kirinya diamputasi akibat kecelakaan petasan pada 1999, namun hal itu tidak menghalangi ia untuk melaksanakan tugas.

Tugas dan Aktivitas Harian

  • Membersihkan area makam setiap hari.
  • Menyambut dan mendampingi peziarah.
  • Menjaga kebersihan dan keindahan lingkungan sekitar.
  • Berperan sebagai marbut (penjaga) Masjid Baitul Maqdis yang berada dekat makam.
  • Membantu istri menjual barang di warung sekitar.

Selain itu, pada saat haul (peringatan hari wafat Pangeran) yang jatuh pada 17 Muharram, Maslichan bersama istri dan warga menyelenggarakan pengajian serta membagikan sekitar seribu porsi nasi jangkrik, sebuah tradisi kuliner khas Kudus.

Pengakuan dan Gaji Pertama

Selama 18 tahun, Maslichan tidak pernah menerima gaji. Baru pada enam bulan terakhir tahun 2026, pihak desa mengusulkan pemberian upah sebagai penghargaan atas dedikasinya. Ia menegaskan bahwa motivasinya bukanlah materi, melainkan ibadah dan kepatuhan pada ajaran leluhur.

Baca juga:
Mengungkap Fenomena Singapore Prize: Dari Hadiah Golf Mewah hingga Inspirasi Kemanusiaan

“Aktivitas sebagai juru kunci dan marbut masjid saya jalani seperti biasa. Meski kehilangan tangan kiri, saya masih mampu beraktivitas,” ujar Maslichan pada Rabu (29/4).

Reaksi Keluarga dan Masyarakat

Istri Maslichan, Aris Kustini (51), menyatakan kebanggaannya atas kemampuan suami yang tetap produktif. “Alhamdulillah tidak ada kendala. Suami saya masih bisa beraktivitas dan membantu saya di warung. Anak‑anak juga tidak malu dengan kondisi ayahnya,” ujarnya.

Masyarakat setempat menilai peran Maslichan sebagai contoh keteladanan. Mereka menganggap kehadirannya memberikan rasa aman dan nyaman bagi para peziarah.

Baca juga:
Tragedi Tampang Noval: Suami Tertuduh Bunuh Istri Hamil dengan Riwayat Disabilitas, Motif Cemburu Menguak Kebenaran

Kisah ini menyoroti nilai-nilai keikhlasan, keberanian, dan rasa tanggung jawab yang melampaui batas kemampuan fisik. Maslichan membuktikan bahwa semangat pengabdian tidak memerlukan imbalan materi, melainkan kepercayaan diri dan keyakinan spiritual.

Dengan dedikasi yang terus berlanjut, Maslichan menjadi simbol kekuatan moral bagi warga Kudus dan menginspirasi banyak orang untuk berkontribusi dalam komunitas tanpa mengharapkan balasan materi.

Tinggalkan komentar